Pemerintahan

POLITEKNIK NEGERI MALANG
lenjag

Ketua DPRD I Made Cahyana Negara Dukung Budaya Banyuwangi

  • Sabtu, 20 Oktober 2018 | 19:56
  • / 9 Safar 1440
  • Dibaca : 6 kali
Ketua DPRD I Made Cahyana Negara Dukung Budaya Banyuwangi
Warga Kampung Mandar, Mujiono mengalungkan Sampur (selendang penari) kepada ketua DPRD Banyuwangi, I Made Cahyana Negara. (tut)

Memontum Banyuwangi – Aliansi Banyuwangi Bersatu (ARB) , Penggiat Seni dan Warga Kampung Mandar tampak siap siaga di pintu masuk pelabuhan Banyuwangi, mengamankan pagelaran tahunan Festival Gandrung Sewu, yang digelar hari ini, Sabtu (20/10/2018) pukul 13.00 Wib.

Pengamanan yang dilakukan oleh aktivis Banyuwangi berkaitan dengan penolakan Ormas FPI Banyuwangi, dan sempat heboh di media sosial WhatsApp dan Facebook, dengan alasan pagelaran Gandrung Sewu itu mengundang kemaksiatan dan membawa bencana.

Disela-sela melakukan penjagaan, para aktivis tersebut di datangi ketua DPRD Banyuwangi, I Made Cahyana Negara. Bahkan politikus muda tersebut mengaku sangat mendukung secara positif acara ini. Menurut Made, Banyuwangi adalah miniatur Indonesia, apapun bentuknya budaya asli nusantara , di Bumi Blambangan khususnya harus dilestarikan.

“Gandrung sewu itu sebuah pengejawantahan budaya adiluhung, filosofinya Gandrung adalah alat perjuangan saat jaman perang. Dan pagelaran hari ini dikemas sajian kolosal, dengan koreography yang bagus, hal ini menjadi magnet wisatawan,”ujar Made , Ketua DPRD Banyuwangi.

Sementara, Koordinator Posko ARB Wilayah Kota Mujiono, secara simbolis menyerahkan sampur (selendang penari) kepada I Made Cahyana sebelum masuk ke dalam lokasi acara menurutnya hal ini adalah aksi simbolis bahwa Ketua DPRD Banyuwangi, adalah sosok yang digandrungi (merakyat,red).

“I Made Cahyana Negara, atau yang biasa kita kenal dengan Mas Made adalah figur merakyat yang mana merupakan perwujudan gandrung itu sendiri,”ungkap Muji.

Muji mengungkapkan, pendirian posko ini hanya sebagai antisipasi saja, tidak ada tujuan lain. Pasalnya, sebelum acara Festival Gandrung Sewu ini dilaksanakan, tersiar kabar jika perhelatan ini akan di bubarkan oleh sekolompok massa.

“Kami hanya berjaga-jaga saja, karena isfonya ada sekolompok massa yang tidak suka dengan pagelaran ini. Karena yang ditampilkan saat ini budaya asli Banyuwangi, saya bersama teman-teman tergerak hati untuk mengamankan jalannya acara ini,”tandasnya.

Endras Puji Yuwono dari Lembaga Penelitian Merah Mutih (Lemlit MP) mengatakan, secara prinsip dirinya sangat bangga dengan seni dan budaya Banyuwangi. Festival Gandrung Sewu ini namanya sudah mendunia, dan Gandrung itu sebagai ikon-nya Banyuwangi, dirinya sebagai orang using harus turut menjaga dan melestarikan budaya asli ini, jangan sampai di rusak dan dibubarkan.

“Sebagai wong using ya harus turut menjaga dan melestarikan budaya asli Banyuwangi, kalau bukan kita yang menjaga dan melestarikan siapa lagi. Kok ada orang yang mau menolak pagelaran ini, yang katanya Gandrung itu mengundang kemaksiatan dan mendatangkan bencana,”ujar Endras. (tut/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Foto Terbaru

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional