Pemerintahan

Penerimaan Mahasiswa Baru Politeknik Negeri Malang
iklan Ucapan HUT RI Gerindra Kota Batu
iklan Ucapan HUT RI BPC Laskar Nusantara Lumajang
lenjag

BPBD Kota Batu dan Instansi Terkait Gelar Rakor Kaji Cepat Antisipasi Dampak Kemarau Panjang

  • Jumat, 19 Juli 2019 | 10:57
  • / 16 Djulqa'dah 1440
BPBD Kota Batu dan Instansi Terkait Gelar Rakor Kaji Cepat Antisipasi Dampak Kemarau Panjang

Memontum Kota Batu – Sejumlah daerah di Indonesia mulai memasuki musim kemarau sejak bulan Mei lalu. Khususnya Kota Batu potensi bencana yang bisa saja terjadi adalah kekeringan, kebakaran hutan dan lahan hingga konflik sosial.

Karena itu, langkah pencegahan bencana langsung dilakukan dengan oleh BPDB Kota Batu bersama Perhutani, BMKG, Dinkes, Damkar, TNI, Polri, media massa dan masyarakat Kota Batu dengan menggelar rakor kaji cepat usulan penetapan status siaga darurat bencana menghadapi musim kemarau 2019.

Dalam pembahasan rakor didalamnya mulai dari memetakan wilayah yang berpotensi mengalami dampak terburuk musim kemarau tersebut. Serta penanganan jika terjadi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga konflik sosial.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu, Malang, Ahmad Khoirur Rochim mengatakan, koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait bertujuan untuk pencegahan dan ancaman bencana kemarau yang berpotensi terjadi di wilayah Kota Batu.

“Ada tiga potensi ancaman bencana yang dapat terjadi di Kota Batu. Kekeringan lahan pertanian, kebakaran lahan dan kekeringan, dan konflik sosial berebut air bersih,” ujar Rochim kepada awak media, Kamis (18/7/2019) di Posko BPBD Kota Batu.

Ia menjelaskan, untuk kekeringan lahan pertanian wilayah yang berpotensi adalah Pendem, Gunungsari, dan Bulukerto. Untuk Karhutla wilayah yang berpotensi adalah Taman Hutan Rakyat Raden Soeryo yang berada di Lereng Gunung Arjuno, Gunung Panderman, Gunung Butak, lahan warga dan hutan yang ada di wilayah KPH Pujon.

“Untuk Karhutla faktor penyebabnya ada tiga. Pertama karena katifitas pendakian yang tak bertanggung jawab, masyarakat yang mencari nafkah di hutan dan tak menjaganya, serta faktor alam atau cuaca panas,” bebernya.

Sedangkan untuk konflik sosial, diungkap Rochim juga berpotensi terjadi. Yakni konflik rebutan air sesama petani, petani dengan warga untuk minum, dan warga dengan investor di bidang wisata atau properti.

Khusus untuk konflik sosial tersebut mengacu dari data BPBD Kota Batu beberapa tahun terakhir ada empat konflik sosial yang terjadi. Mengingat setiap musim kemarau ketersediaan debit air selalu menurun.

Untuk mewaspadai musim kemarau yang diperkirakan hingga bulan November tersebut, pihaknya akan mendirikan posko kesiap siagaan bencana di tiga titik. Posko Punten sebagai pusat, Gunung Banyak, Gunung Panderman, dan Sumberbrantas. Serta inventarisasi peralatan dan selalu berkoordinasi dengan dinas terkait.

Persiapan tersebut penting dilakukan. Mengingat tahun 2015 terjadi el nino dan mengakibatkan bencana Karhutla di Tahura Raden Soeryo dan membakar lahan hingga 30 hektar.

Perlu diketahui juga, luasan hutan di Kota Batu mencapai 11000 hektar dengan pengawasan 12 orang personil untuk KPH Pujon dan 6 petugas dari Tahura Raden Soeryo.

Sementara itu, Staff Analisa dan Informasi, Stasiun Klimatologi Malang, Selina Ayuningtyas menambahkan bahwa kerawanan bencana musim kemarau sudah terlihat sejak bulan Mei. Menurut prakiraan BMKG puncak musim kemarau pada bulan Agustus dan Oktober.

“Potensi kekeringan ekstrim sudah terlihat di awal Mei. Tapi tidak menutup kemungkinan kekeringan hingga sampai bulan November. Ini diindikasikan dengan turunnya curah hujan secara signifikan,” paparnya.

Selain itu dari monitoring yang dilakukan untuk hari tanpa hujan sejak 30 juni – 10 juli 2019 seluruh wilayah Jatim terdeteksi kekeringan ekstrim. Meski ada beberapa daerah yang terjadi hujan. Misalnya di Kota Batu awal Juni lalu.

Sedangkan untuk prakiraan curah hujan tiga bulan hingga Oktober kedepan di Kota Batu dan Malang Raya tidak ada hujan. Lebih parahnya lagi, jika terjadi el nino seperti tahun 2015, musim kemarau bisa mencapai bulan November.

“Meski saat prakiraan musim kemarau masih normal. Jika ada indikasi el nino akan kami sampaikan nantinya. Sedangkan untuk prakiraan musim hujan tahun 2019 ini masih kita godog di BMKG pusat,” tandasnya. (bir/yan)

 

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional