Pemerintahan

iklan Penerimaan Mahasiswa baru universitas wisnuwardhana
lenjag

Selama Tiga Bulan, Empat Nyawa di Blitar Direnggut DBD

  • Minggu, 15 April 2018 | 19:28
  • / 29 Rajab 1439
  • Dibaca : 61 kali
Selama Tiga Bulan, Empat Nyawa di Blitar Direnggut DBD
Kepala Bidang Pencegahan Pemberantasan Penyakit Dinkes Kabupaten Blitar, Krisna Yekti

Memontum Blitar – Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar mencatat, terhitung sejak Januari sampai Maret 2018, empat anak dilaporkan meninggal dunia akibat DBD. Hal ini membuktikan, bahwa penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi penyakit yang menakutkan saat datang musim hujan serta musim pergantian cuaca.

Menurut Kepala Bidang Pencegahan Pemberantasan Penyakit Dinkes Kabupaten Blitar, Krisna Yekti, rata-rata penderita DBD yang meninggal dunia berusia 5 hingga 10 tahun.

“Data selama Januari hingga Maret ada empat anak meninggal dunia akibat DBD,” kata Krisna Yekti, Minggu (15/04/2018).

Lebih lanjut Krisna menyampaikan, penyebab banyaknya kasus kematian akibat DBD adalah karena penanganan yang kurang cepat dan tepat.

“Mereka baru dibawa ke rumah sakit, saat kondisinya sudah parah. Selain itu gejala DBD juga tidak terlalu dipahami oleh masyarakat sehingga saat awal-awal menyerang diduga hanya sakit panas biasa”, tadasnya.

Krisna menambahkan, jika dilihat dari jumlah kasus, tahun ini sebenarnya tidak mengalami kenaikan yang signifikan.

“Sampai akhir bulan Maret tercatat ada 71 kasus DBD. Namun kenaikan terjadi pada angka kematian yang cukup tinggi”, ungkapnya.

Mengantisipasi semakin bertambahnya kasus tersebut, Dinkes Kabupaten Blitar mengajak masyarakat untuk gencar melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Karena PSN adalah salah satu langkah paling efektif untuk membunuh jentik nyamuk.

“Salah satu yang paling efektif ya dengan PSN. Karena dengan PSN bisa membunuh nyamuk hingga jentiknya berbeda dengan foging yang hanya membunuh nyamuk dewasa saja”, jelas Krisna.

Ditegaskan Krisna, PSN untuk mencegah berkembang biaknya nyamuk Aedes Aegypti penyebab DBD harus dilakukan setiap saat. Bukan hanya saat intensitas hujan sedang tinggi.

“Nyamuk Aedes Aegypti mengalami peningkatan perkembang biakan justru saat memasuki pergantian cuaca. Dari musim kemarau ke musim hujan, maupun dari musim hujan ke musim kemarau”, pungkas Kepala Bidang Pencegahan Pemberantasan Penyakit Dinkes Kabupaten Blitar. (jar/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Foto Terbaru

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional